
Foto : Veteran Indonesia Bersama Siswa SMAN 1 Pace dan siswa SMAN 1 Berbek
NGANJUK — Dalam rangka menyambut 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kami, siswa Ekstrakurikuler Jurnalistik Abdi Wara SMA Negeri 1 Pace, berkesempatan menjadi perwakilan sekolah untuk menemui dan berbincang langsung dengan para veteran di Nganjuk. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang berbeda karena kami tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi mendengarkan kisah perjuangan langsung dari orang-orang yang pernah mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara.
Mengusung tagline “Dari Rumah Veteran, Belajar Arti Kemerdekaan”, kami datang untuk menjemput cerita, pengalaman, pesan, dan nilai perjuangan yang masih relevan bagi generasi muda. Dalam pertemuan tersebut, kami berbincang dengan Bapak Sujiman, Bapak Kapiarso selaku Ketua Veteran Republik Indonesia, serta Bapak Haji Cholil yang memiliki pengalaman penugasan dalam misi perdamaian di luar negeri. Bagi kami, pertemuan ini bukan sekadar wawancara jurnalistik, tetapi sebuah perjalanan kecil untuk memahami betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.

Foto : Sesi Veteran bercerita di ruang Legiun Veteran Republik Indonesia Markas Cabang Kabupaten Nganjuk
Salah satu narasumber yang kami temui adalah Bapak Kapiarso, Ketua Veteran Republik Indonesia, dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel, yang lahir di Jember pada 12 November 1945 dan kemudian menjalani masa pensiun di Nganjuk. Dalam perbincangan tersebut, beliau menjelaskan bahwa veteran bukan hanya sekadar sebutan bagi seseorang yang pernah menjadi anggota TNI atau Polri karena tidak semua pensiunan tentara otomatis memperoleh gelar veteran. Veteran dapat berasal dari purnawirawan TNI, Polri, maupun masyarakat Indonesia yang pernah tergabung dalam satuan pemerintah dan melaksanakan tugas yang berkaitan dengan menghadapi tentara asing atau tugas tertentu bagi negara.
Beliau menjelaskan adanya beberapa jenis veteran, yaitu Veteran Perjuang Kemerdekaan 1945 atau PKRI, Veteran Penegak, Veteran Pembela, dan Veteran Perdamaian yang menjalankan tugas di bawah misi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penjelasan tersebut membuat kami memahami bahwa di balik istilah “veteran” terdapat sejarah panjang tentang pengabdian, penugasan, perjuangan, dan tanggung jawab kepada bangsa. Bapak Kapiarso kemudian menceritakan bahwa perjuangan para veteran lahir dari masa ketika Indonesia sedang bergejolak mempertahankan kemerdekaan, termasuk ketika Belanda kembali berusaha menjajah Indonesia pada sekitar tahun 1946–1947. Dalam perkembangan berikutnya, terdapat veteran penegak dan veteran pembela yang menjalankan berbagai tugas, termasuk penugasan yang berkaitan dengan Dwikora, Trikora, Timor Timur, serta veteran perdamaian yang bertugas di bawah PBB, salah satunya di Kamboja.
Bapak Haji Cholil juga membagikan pengalaman ketika tergabung dalam Garuda XII PBB di Kamboja, dengan tugas secara umum menjaga perdamaian, menjaga perbatasan, serta melakukan patroli dan tugas-tugas lainnya. Menurut beliau, salah satu pengalaman yang paling berkesan ketika bertugas di luar negeri adalah mempelajari bahasa, karena keberanian saja tidak selalu cukup ketika menghadapi perbedaan bahasa dan budaya. Dari cerita tersebut kami belajar bahwa keberanian seorang prajurit tidak hanya diuji melalui medan tugas, tetapi juga melalui kemampuan menghadapi berbagai rintangan, beradaptasi, dan menjalankan tanggung jawab dalam situasi yang tidak mudah.
Kisah perjuangan Bapak Kapiarso juga membawa kami pada cerita tentang berbagai penugasan yang pernah dijalaninya, termasuk ketika dikirim ke Kalimantan Barat dan kemudian menjalankan tugas di Timor Timur. Beliau mengenang masa ketika masih muda dan terus menerima penugasan karena kepentingan negara, termasuk situasi ketika urusan negara berkaitan dengan pengaturan PBB, kondisi inflasi Indonesia, hingga penugasan sebagai sukarelawan di Timor Timur. Beliau mengungkapkan bahwa pertempuran adalah pengalaman yang berat karena perang memakan banyak korban dan masyarakat sipil juga mengalami kesulitan untuk bertahan hidup, bahkan persoalan sandang dan pangan dapat menjadi tantangan ketika wilayah berada dalam situasi konflik. Bagi Bapak Kapiarso, berbagai pengalaman tersebut menjadi pengetahuan yang sangat kaya untuk diceritakan kepada anak dan cucu agar generasi penerus memahami nilai perjuangan yang pernah dilalui bangsa. Dari cerita itu, kami semakin menyadari bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang hadir dengan mudah, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang diwarnai keberanian, pengorbanan, air mata, dan keteguhan hati.

Foto : Veteran menuliskan pesan pada generasi masa kini yang akan ditampilkan di ruang literasi sekolah
Pesan yang paling kuat kami terima dari para veteran adalah tentang Jiwa, Semangat, dan Nilai 45 atau JSN yang harus tetap hidup dalam diri generasi muda.
Bapak Sujiman menyampaikan bahwa setiap zaman memiliki kondisi dan tantangannya sendiri, sehingga apa yang dilakukan generasi dahulu merupakan bentuk perjuangan sesuai keadaan pada masanya, sedangkan generasi sekarang harus mengikuti dan menghadapi tantangan zamannya dengan semangat yang sama. Beliau menegaskan pentingnya semangat pantang menyerah, cinta tanah air, dan rela berkorban karena landasan JSN harus tetap terpatri dalam jiwa bangsa Indonesia. Bapak Kapiarso berpesan agar kami menjaga nama baik pendidikan, menjaga persatuan dan kesatuan, memupuk kekompakan, serta menjadi penerus bangsa yang baik dengan tingkah laku yang mencerminkan karakter positif. Beliau juga berharap anak-anak dan cucu-cucu di Nganjuk mampu meraih impian masing-masing dan yakin bahwa tidak ada hal yang terlalu sulit selama kita memiliki kemauan, berjuang tanpa lelah, serta terus berusaha untuk meraihnya. Bagi kami sebagai siswa, pertemuan dengan para veteran menjadi pelajaran yang tidak akan mudah kami lupakan. Kami belajar bahwa kekeluargaan harus dijaga, solidaritas harus dipupuk, persatuan harus dirawat, dan perjuangan harus dilakukan tanpa pamrih sebagaimana telah dicontohkan para pendahulu bangsa dengan semangat satu nusa, satu bangsa dan NKRI harga mati. Para veteran juga mengingatkan kami untuk mencintai almamater, menjunjung tinggi tempat kami belajar, serta mempertahankan nama baik sekolah melalui prestasi dan perilaku yang baik; bahkan Bapak Kapiarso menyampaikan salam hormat kepada Kepala Sekolah Bapak Agus Syakir, M.Pd.I. dan seluruh guru. 81 tahun Indonesia merdeka akhirnya tidak lagi terasa sebagai angka bagi kami, karena dari rumah veteran kami menemukan cerita tentang perjuangan, dari perjuangan kami menemukan nilai, dan dari nilai itulah kami belajar bahwa tugas generasi muda adalah meneruskan kemerdekaan dengan belajar, berkarya, menjaga persatuan, serta berjuang meraih masa depan.